MENOLONG DENGAN PAMRIH

25 Ags 2015 02:05:25 WIB
Telah dibaca 698x

Kalimat yang sering terlontar dan menjadi sebuah nasehat dari para orang tua kepada anak-anaknya yaitu ”menolong-tanpa-pamrih”. Kalimat tersebut menjadi janggal dan patut dicermati bila diubah menjadi ”menolong-dengan-pamrih”. Seperti halnya pada pertengahan bulan Februari 2015, berbagai media memberitakan tentang pihak Australia yang mengingatkan Indonesia dulu pernah menolong Tsunami. Pemberitaan tersebut membentuk persepsi masyarakat bahwa Australia menolong-dengan-pamrih. Hal yang mungkin terjadi adalah ketika terjadi bencan Tsunami di Aceh, pihak Australia memang memiliki dorongan altruism untuk menolong korban di Aceh. Bila sekarang seolah bersyarat bisa dikarenakan adanya kasus eksekusi oleh pemerintah Indonesia terhadap warga Australia. Bagi pemerintah Indonesai saat ini waktunya bangkit, berbagai bentuk peristiwa yang tidak mendukung kemajuan bangsa segera ditindak dengan tegas. Keputusan tegas pemerintah Indonesia menjadi semacam shock terapi bagi Australia. Cukup bisa dipahami, karena eksekusi mati biasanya hanya berlaku di negara-negara tertentu dan apakah tindakan ini tegas dan sungguh berkarakter Indonesia atau karena adanya faktor lain.

Dorongan untuk menolong atau yang sering disebut sebagai altruism secara psikologis pasti ada pada setiap individu, baik disadari maupun tidak. Bila terjadi sikap menolong-dengan- pamrih biasanya karena adanya faktor eksternal yang mempengaruhi individu, seperti luka batin, kekecewaan, serta pengalaman yang tidak mengenakan. Pada dasarnya menolong-dengan-pamrih tetaplah perlu dikritisi. Apabila pamrih yang dimaksud merupakan simbiosis mutualisme dalam hal positif maka sikap tersebut akan mendukung kerukunan bersama. Individu yang memiliki altruism yang baik adalah: memberi, empati, kerelaan yang tentu saja sesuai dengan porsinya dan tidak bersyarat. Pengembangan altruism hendaknya dimulai sejak dini. Alternatif cara mendidik anak sedini mungkin untuk memiliki jiwa altruism yaitu anak sering diajak berkegiatan bersama, dibiasakan spontan dalam menolong tanpa harus ada alasan tentunya dalam konteks yang positif, sehingga anak akan terbiasa melakukan “menolong” merupakan sesuatu yang lumrah, wajar dan memang semestinya.

Oleh: Fx. Wahyu Widiantoro.

Materi pada Siaran Interaktif Psikologi di RRI Kotabaru DIY,

Artikel Terkait

Shale gas adalah gas alam yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bum...

Perayaan Hari Valentine

25 Ags 2015 02:06:39 WIB

Perayaan valentine di Indonesia selalu menimbulkan kontroversi. Bagi sekelompok masyarakat melihat p...

Berita Terbaru

Tim LKBH UP45 mendatangi rumah Sukalis (Klien LKBH/Ayah Kandung Ayu Agustina) yang beralamat di Keca...

Pihak Universitas Proklamasi 45 sangat menyayangkan aksi 12 oknum yang sudah diberhentikan sebagai m...

Energy Management and Governance Institute UP 45 (EMGI UP45) mengadakan kegiatan bedah buku dan disk...

Agenda

13
Sep
2017
14
Sep
2017