Talk Show Psikologi Dengan Tema ”Fenomena Tindak Kekerasan di Kalangan Remaja

12 Sep 2017 09:00:20 WIB
Telah dibaca 143x
Talk Show yang telah terlaksana merupakan agenda rutin tiap semester dan mengakhiri kegiatan perkuliahan semester genap 2017. Fakultas Psikologi memiliki peranan penting dalam pengkajian fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat.Saat ini masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta dihadapkan pada peningkatan kasus kekerasan di kalangan remaja. Remaja adalah fase transisi dari fase anak-anak menuju fase dewasa awal.Pada tahap perkembangan ini individu cenderung memiliki kontrol diri yang rendah. Kontrol diri yang rendah dari individu berpotensi pada pelampiasan akan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan perilaku agresif.
 
Tujuan yang ingin dicapai tentu adalah meningkatkan pengetahuan tentang proses kenakalan remaja dan beru paya mencegah terjadinya kekerasan di kalangan remaja. Acara dihadiri oleh 250 peserta yang terdiri antara lain dari siswa SMA PIRI, SMA N Banguntapan, SMK PIRI, mahasiswa UIN, UGM, USD, guru, dosen, aktivis LSM, dan masyarakat umum. Pelaksanaan pada hari Sabtu, 29 Juli 2017, pukul  08.00-12.00, di Ruang Seminar Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Bapak Ir. Bambang Irjanto, MBA., sebagai Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dalam sambutannya menyatakan kekhawatiran terhadap pengaruh tindak kekerasan dikalangan remaja khususnya mahasiswa dan siswa SMA.  

Inti acara dipandu oleh Bapak Susilo Nugroho yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Den Baguse Ngarso. Para pembicara, yang terdiri dari tokoh maupun praktisi yang terkait dengan kenakalan remaja mengulas psikodinamika remaja, data-data kenakalan remaja serta upaya penanganan yang tepat terhadap fenomena tindak kekerasan di kalangan remaja.
 
Ibu Ratna  Yunita Setiyani S,M.Psi, Kaprodi UNISA Yogyakarta, menjelaskan bahwa Remaja adalahseseorang yang berusia dari 13-20 tahun, yang mengalami masa puber menuju kematangan seksual dan mental. Remaja mempunyai perilaku lebih cenderung percaya dengan teman daripada orangtuanya.
 
Bapak dr. H. KPH. Sutomo Parastho Kusumo, Budayawan, menjelaskan tentang konsep menghadapi remaja pada jaman dahulu, anak selalu mendapatkan pembelaan dan menyalahkan orang lain ketika berbuat suatu kesalahan.
 
Bapak Drs. Indra Wahyudi, M.Si.,Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, menyampaikan bahwa persoalan kekerasan berawal dari suatu dorongan yang ditujukan kepada orang lain,dan disengaja sehingga orang lain tersebut berusaha untuk menghindar. Kekerasan dikalangan remaja muncul berawal dari usiabalita. Perlakuan yang diterima sewaktu balitaakan berpengaruh ketika anak mulai masuk fase remaja.
 
Bapak Armunanto, Staff UNICEF, menyampaikan bahwa Pemerintah mendukung remaja untuk mengembangkan potensi positifnya sehingga remaja tidak memunculkan sikap negatifnya Hal negatifyang sering muncul yaitu perilaku kekerasan. UNICEF memfasilitasi kebutuhan anak dari usia ketika lahir hingga remaja. Misalnya, hak lahir dengan mendapatkan akte kelahiran.
 
Bapak AKBP. Beja, SH., M.H., Kasubdit IV Renakta, Ditreskrimum Polda DIY, memberikan contoh perilaku tindak kekerasan yang terjadi pada Remaja di Jogjakarta akhir-akhir ini yaitu perilaku yang disebutklithih.Kecenderungan perilaku kekerasan sebagai salah satu tugas perkembangan yang harus dilewati oleh remaja.Tugas polisi dalam menghadapi tindak kekerasan dalam konsep perlindungan anak yaitu tidak harus dihukum.
 
Bapak Drs. C. Bambang Santosa Hadi, Kasie Perlindungan dan Rehabilitasi  BPRSR DINSOS D.I.Y., menjelaskan bahwa Anak yang berbuat pidana tidak harus dihukum, melainkan bisa diselesaikan dengan proses disversi atau kekeluargaan. Perlindungan anak yang menjadi pelaku kekerasan akan dilindungi baik fisik maupun psikisnya. Jenis kekerasan yang banyak dilakukan oleh remaja misalnya pembacokan, penggunaan sajam serta yang lainnya.
 
Sesi tanya jawab berlangsung secara dinamis dan peserta maupun pembicara sangat responsif terhadap materi yang dipaparkan. Diskusi pun terjadi, berbagai pertanyaan peserta terjawab dari ragam pemikiran yang telah disampaikan oleh para pembicara. Peserta terbantu dalam meningkatkan pengetahuan tentang dinamika remaja sehingga merasa mampu mengupayakan pendampingan yang optimal pada remaja yang menjadi korban maupun pelaku kekerasan.
 
Mahrita, salah satu peserta menanyakan ”Bagaimanakah penanggulangan pelampiasan emosi terhadap diri sendiri?”. anggapan dari narasumber, upaya yang dapat dilakukan yaitu mencari penyebab emosi yang muncul. Perbanyak komunikasi dengan orang lain, belajar untuk mengendalikan diri, menjauhkan peralatan yang mudah memunculkan kekerasan, membangun komunikasi antar keluarga. 

Berita Terkait

Pendidikan hanya berdasar pada teori tidak akan menjadi suatu hal yang lengkap tanpa disertai prakte...

Symposium tentang Masyarakat, Kesejahteraan dan Keberlanjutan Planet di Kota Dunia yang diselenggara...

Berita Terbaru

Tim LKBH UP45 mendatangi rumah Sukalis (Klien LKBH/Ayah Kandung Ayu Agustina) yang beralamat di Keca...

Pihak Universitas Proklamasi 45 sangat menyayangkan aksi 12 oknum yang sudah diberhentikan sebagai m...

Energy Management and Governance Institute UP 45 (EMGI UP45) mengadakan kegiatan bedah buku dan disk...

Agenda

13
Sep
2017
14
Sep
2017